“Nyekil” itu masih “anak kecil”

Idang Rasjidi

PEKALONGAN, omahmoesik.net – Suatu pagi di bulan Ramadhan, tepatnya pada Kamis, 11 Juli 2013 pukul 05:30 WIB, saya membaca artikel menarik tentang “Musisi; Menurut Om Idang Rasjidi” di blog Bebunyian @jay_afrisando (jayafrisando.wordpress.com). Hal ini kita bisa berpikir, merasakan dan juga menjadi renungan bagi kita sebagai musisi atau teman-teman yang memiliki hobi di bidang musik.

Menurut beliau, seorang musisi yang baik adalah bukan musisi yang nyekil (memiliki keterampilan motorik yang bagus), tetapi musisi yang mampu memberikan energi pada diri sendiri, orang lain, dan apapun di sekitarnya. Musisi yang baik adalah musisi yang bersifat “memberi.” Beliau juga mengatakan dengan nyleneh bahwa musisi yang cuma nyekil itu masih “anak kecil” alias belum pantas disebut musisi yang baik.

Masukan berikutnya masih ada hubungannya dengan nyekil, musisi yang baik mampu mendengarkan semua bunyi di sekitarnya (tidak hanya mendengarkan bunyinya sendiri) mampu mendapatkan “sunyinya”. Ketika kita mampu mendapatkan “sunyi”, di situlah seorang musisi mampu memberikan energinya.

Energi di sini salah satunya berupa keputusan musisi untuk membunyikan atau tidak membunyikan bunyi. Tidak membunyikan bunyi tidak berarti tidak bermain musik, sedangkan membunyikan bunyi belum tentu bermain musik.

Di waktu yang tepat, tidak berbunyi berarti memberikan ruang energi bagi bunyi yang lain. Sesungguhnya, di dalam diam terdapat ribuan bahkan jutaan bunyi. Di sisi yang lain, berbunyi seharusnya memberikan energi, bukannya merusak energi. Dengan memberikan energi, kita memberikan kesempatan bagi musisi lain untuk merespon energi kita, sehingga terciptalah energi yang lebih besar.

Bagi pemula, mungkin ini sulit dimengerti pada awalnya. Menurut saya, untuk melatih hal ini dibutuhkan waktu, tidak serta-merta bisa. Dengan berjalannya waktu, pengalaman demi pengalaman akan terkumpul sebagai bahan pembelajaran.

Author : Yudho Prabowo

Leave a Reply