Jazz Gunung, Harmonisasi Musik & Alam dari Dataran Nan Tinggi

Idang Rasjidi feat Gita Wirjawan

PEKALONGAN, omahmoesik.net – Sore, kabut dan dingin, tidak menghalangi penonton untuk tetap duduk menikmati pertunjukkan musik Jazz di Bromo. Festival Jazz bernama Jazz Gunung yang digagas oleh Pemilik Hotel Java Banana Bromo, Sigit Pramono, menjadi salah satu festival Jazz terunik di Indonesia karena berlokasi di gunung Bromo, Probolinggo. Tahun ini merupakan tahun ke-5 festival itu digelar dengan jumlah penonton yang semakin banyak setiap tahunnya. Festival ini diselenggarakan selama 2 hari, 21 – 22 Juni 2013. Musisi – musisi Jazz yang tampil yaitu Sierra Soetedjo, Rieka Roslan, Ring of Fire Project, Djaduk Ferianto, Jen Shyu, Idang Rasjidi, Kulkul, Balawan, Yovie Widianto, Duo Bandanaira dan Barry Likumahuwa Project.

Kesenian tradisional dipilih menjadi pembuka Jazz Gunung sore itu. Pada hari pertama, Sierra Soetedjo yang seharusnya tampil sore hari diundur beberapa jam karena cuaca yang mendadak gerimis. Penonton yang sudah meninggalkan tempat duduknya untuk berteduh segera kembali ketika panitia mengumumkan bahwa acara akan dimulai lagi. Antusiasme penonton yang tidak surut membuat suasana malam itu menjadi lebih hangat di tengah dinginnya udara gunung. Sierra yang malam itu tampil cantik diiringi band kemudian meminta musisi Jazz senior Idang Rasjidi untuk ikut bermain dan interaksi spontan pun terjadi antara Sierra dan Idang Rasjidi. Malam itu ditutup oleh penampilan dari Yovie Widianto yang mengusung Fusion.

Hari kedua acara kembali dibuka dengan penampilan kesenian tradisional dari Madura. Pakaian khas Madura dengan motif garis merah putih menambah rancak musik yang dibawakan oleh grup tersebut. Kolaborasi antar negara terjadi ketika Ring of Fire Project yang dipimpin oleh Djaduk Ferianto tampil bersama Idang Rasjidi dan Jen Shyu. Penampilan Jen Shyu memberikan warna tersendiri di Jazz Gunung kali ini. Jen Shyu, pe’sinden’ berdarah taiwan, mengawali penampilannya dengan memainkan alat kesenian tradisional taiwan. Ada hal menarik yang mungkin tidak ditemukan di festival Jazz lain di Indonesia. Ditengah-tengah penampilan Ring of Fire Project, Idang Rasjidi tanpa terduga memanggil Gita Wiryawan untuk berduet memainkan keyboard yang ada disebelahnya. Penonton begitu bersemangat menyaksikan penampilan orang yang saat ini menjabat sebagai Menteri Perdagangan tersebut. Tepuk tangan penonton pun begitu meriah menyambut kolaborasi dadakan tersebut. Sekitar pukul 22.30 Jazz Gunung akhirnya ditutup oleh penampilan BLP, band yang terdiri dari anak-anak muda enerjik bentukkan sang bassist Barry Likumahuwa, membawakan beberapa hits mereka.

Ada beberapa nilai positif dalam acara Jazz Gunung yang berkaitan dengan kehidupan khususnya dalam bermasyarakat. Nilai sinergi menjadi nilai tertinggi dalam acara tersebut dengan adanya kerjasama 2 arah antara pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. Ditengah suasana daerah gunung yang begitu tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, dan kehidupan masyarakat yang cenderung stabil mendadak menjadi sangat dinamis dengan hal-hal yang mungkin tidak terbayang kecepatan pergerakannya dan akhirnya memberikan efek ramai seketika. Sebagaimana sinergi yang tercipta, masyarakat lokal dengan terbuka menyambut situasi tersebut, bahkan keramah-tamahan masyarakat yang dengan sikap sederhana tulus membantu sangat dapat dirasakan. Dukungan pemerintah daerah juga begitu baik ditunjukkan dengan hadirnya mereka ditengah-tengah penonton dan menjadi satu bagian dalam acara tersebut. Mereka benar-benar memberikan sikap apresiasi yang baik yang seharusnya juga muncul ketika mereka sedang bertugas sebagai pejabat negara. Seakan mereka lupa bahwa pada hari yang sama Pemerintah secara resmi menaikkan harga BBM. Cukup tragis memang, tapi itulah hidup, selalu butuh penyeimbang.

Pada saat memberikan sambutan, Sigit Pramono menyampaikan bahwa penyelenggaraan Jazz Gunung ini memang identik dengan alam terbuka. Beliau juga mangatakan bahwa hal tersebut yang membedakan Jazz Gunung dengan festival Jazz lainnya. Nilai itu yang kemudian membuat semakin banyak penonton yang ingin datang menikmati pertunjukkan musik Jazz di gunung. Nilai orisinalitas yang sangat jujur dengan segala resikonya yang ternyata menjadikan Jazz Gunung sangat diminati. Dengan tagline “Indahnya Jazz Merdunya Gunung”, pihak penyelenggara benar-benar ingin Jazz Gunung bisa membaur tidak hanya dengan masyarakat sekitar tetapi juga dengan alam sekitar dan menciptakan harmonisasi yang indah dan merdu.

Author by : Wydha Hendra Kusuma

Leave a Reply